Agen Poker Agen Poker Agen Poker

CERITA JANDA AKU KORBAN NAFSU SAUDARA IPARKU

By On Tuesday, April 5th, 2016 Categories : cerita bokep, cerita dewasa, cerita janda, cerita mesum, cerita sex

CERITA JANDA AKU KORBAN NAFSU SAUDARA IPARKU

CERITA JANDA AKU KORBAN NAFSU SAUDARA IPARKU sejak Ayah meninggal tujuh tahun lalu dan ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak tertua saya, Ms Mira. rumah orangtuaku di Madiun terpaksa dijual. uang kami selama tiga, Mira Mbak, Mbak Mona, dan aku, Mila.
Rumah itu hanya dijual Rp warisan. 6,5 juta. Pada saat itu saya masih di kelas tiga sekolah tinggi. Masing-masing mendapat Rp. 2 juta, sisanya Rp 500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki makam kedua orang tua dan biaya keselamatan.

5s (1)

Ketika menerima uang warisan Rp. 2 juta, saya menabung Rp. 1 juta sebagai deposit ke bank, sedangkan sisanya membeli TV. Karena saya ingin memiliki TV sendiri di kamar tidurnya.
Setelah lulus, aku pergi sendirian ke Sarangan bersama-sama dengan Anton, pacar saya kelas saya. Rekreasi tempat yang dingin bahwa saya bercinta dengan Anton. Entah bagaimana awalnya, setelah saya mencium dan uleni payudara saya, saya suka terhipnotis dan tergoda oleh semua rayuannya, jadi saya taat hanya ketika Anton meminta saya untuk memasuki kamar hotel di Sarangan, aku tidak menolaknya.
Bahkan ketika di kamar tidur, Anton mulai kembali dengan cumbuannya dan meremas-meremas kehangatan yang benar-benar membuat saya tak berdaya dan diam saat Anton mulai melepas satu per satu seluruh pakaian ke tubuh saya, saya hanya bisa merasakan helaan nafas yang semakin tidak teratur dan seluruh saya tubuh benar-benar di luar kendali saya. Ketika tangan Anton semakin bergerak leluasa ke bagian-bagian sensitif dari tubuh saya, saya mendapatkan membiarkan pergi dan menikmati semua ciuman hangat, peras-memeras sukacita yang luar biasa, sampai akhirnya semua pertahanan runtuh setelah Anton penis cepat masuk dan meraih keperawanan saya untuk mengalahkan hanya. Tapi semuanya tidak berpikir terlalu lama karena aku benar-benar benar-benar menikmatinya ketika penis Anton mulai bergerak maju-mundur, naik dan turun, membuat debit vagina lubang kenikmatan yang terasa hangat saat tubuhku terhempas ke tempat tidur untuk orgasme ultimate aku merasa di waktu itu. Lemas, mataku berat, dan akhirnya aku tertidur di pelukan dada tercinta Anton.
bintik merah yang harus mendedikasikan untuk suami saya, akhirnya keberikan lebih awal kepada Anton, pacarku sekaligus calon suamiku kelak. Aku ingat persis Anton kembali hubungan dengan saya hingga lebih dari tiga kali pada hari itu, aku benar-benar dibuat tunduk kejantanan.
“Ada yang sudah berpikir tentang keperawanan. Jaman telah dikembangkan, manusia tidak perlu keperawanan, tapi kesetiaan”, kata Anton setelah berhasil mengambil keperawanan. Saya masih ingat persis ketika Anton memberiku Rp 10 ribu.
“Ini untuk membeli obat herbal,” katanya singkat. Aku hampir melemparkan uang ke wajahnya. Tapi Anton bergegas ciuman di pipi, dahi dan leher sehingga aku tidak bisa marah karena sikap sebelumnya.
pikiran benar. Setelah peristiwa itu Anton tidak muncul. Aku menunggu selama hampir dua minggu, tampaknya tidak terlalu hidung. Akhirnya saya dipaksa untuk datang ke rumahnya di jalan Borobudur. Saya terkejut, ketika ibunya mengatakan Anton telah berangkat ke Jakarta, untuk mencoba peruntungannya di sana. Niat hati ingin menyampaikan masalah ini kepada ibunya bahwa aku dan Anton telah melakukan hal-hal seperti suami dan istri. Tetapi mulut bersuara. Aku hanya menahan napas dan mengehembuskannya saya sangat.
Ketika berdebar saya paling adalah ketika saya tidak menstruasi. Aku panik, beberapa jenis pil yang disebut orang bisa untuk mengakhiri kehamilan, aku minum. Tapi, aku masih di akhir bulan mendatang. Aku mulai panik. Selain itu, saya harus meninggalkan rumah, karena rumah kami sudah dijual. Aku harus ke Surabaya, tidak ada cara lain.
Bulan kedua saya diteruskan ke mengurung diri di sebuah kamar di Mira ruman Mbak, kakak sulungku. D rumah tinggal juga suaminya, Mas Sancaka, dan satu-satunya anak Sarma, yang masih balita. Selain itu ada juga Sudrajat Mas, Mas Sancaka adik, yang masih hidup tunggal.
Ibu Mira rumah sebulan, saya tidak bisa menyembunyikan lagi. Ketika Ibu Mira tidur aku mengungkapkan ini untuk masalah Mas Sancaka, dan berharap dia bisa memeberikan jalan keluar terbaik bagi saya.
“Besok kamu ikut aku. Kita harus membatalkan anak haram”, kata Mas Sancaka, “Dan Ibu Mira tidak perlu tahu tragedi ini”, tambahnya. “Kamu masih punya uang disimpan?”, Katanya.
“Satu juta”, jawabku singkat.
“Besok pagi kita ambil, kekurangan uang biarkan aku menjadi tanggung jawab”, kata Mas Sancaka.
Keesokan paginya aku dibawa ke dokter yang ada wilayah lokalisasi di Surabaya. Di tempat yang tidak terlalu luas, yang belum lahir dibatalkan. “Biayanya Rp. 1,6 juta, tidak termasuk biaya kamar, biaya pengobatan dan obat-obatan. Siapkan saja uang sekitar Rp. 2 juta,” kata dokter yang merawat untuk Mas Sancaka.
Aku menatap Mas Sancaka untuk meminta reaksi pidato tadi malam. “Ya, Dok. Ini kami membawa uang Rp. 1 juta, maka saya akan mengambil uang di ATM untuk menyelesaikan semua biaya”, kata Mas Sancaka kepada dokter yang akan menggugurkan janin, karena ia melirik. Itu adalah bantuan saya dibantu adik ipar. pikiran saya, saya harus berharap untuk kembali ke perguruan tinggi, menjadi ‘orang’. Rp. 1 juta aku pergi, dan dalam waktu sepuluh menit aku tak sadarkan diri. Ketika aku bangun, saya telah di ruangan yang sama saya tidak tahu. Ada seorang perawat di sini. “Jangan banyak bergerak di muka jadi jeng,” kata perawat yang berusia sekitar 40 tahun. Dia kemudian menyeka keringat saya dan meneyelimuti tubuhku dengan kemeja putih.
Segera Mas Sancaka datang dan membawa buah-buahan bagi saya. Aku tersenyum padanya. Dia juga tersenyum. Mengusap rambut saya, dan mencium keningku.
“Sus, meskipun kami batalkan, tapi kami ingin tetap menikah. Kami hanya merasa siap dulu. Aku ingin menjadi istri kedua Mila,” kata Mas Sancaka untuk menyusui itu, tanpa meminta persetujuan jika saya berpura-pura menjadi WIL nya.
Sehari kemudian aku pulang. Tapi aku tidak diperbolehkan pulang oleh Mas Sancaka Mira Mbak, saya hanya membawa kesebuah Hotel. “Kenapa di sini, Mas?” Saya bertanya.
“Kau masih terlihat pucat. Jangan pulang, Anda tidur di sini sekitar 3 sampai 4 hari pertama, kemudian pulang ke rumah. Pokoknya Mas Sancaka sudah bilang ya Mira, bahwa Anda kembali sementara ke Bandung untuk tujuan kunjungan Anda,” katanya. Aku mengikuti nasihatnya hanya itu.
Hari-hari pertama Mas Sancaka bersikap sopan kepada saya, ia tampaknya mencintaiku. Namun, pada hari kedua, Mas Sancaka mulai berubah, setelah berbaringan di samping saya, Mas Sancaka secara mengejutkan memintaku untuk mengadakan ‘senjata’.
“Saya tidak kuat, Mila. Silahkan Anda memegang tangan-ayam untuk ‘keluar’, sehingga kepala saya tidak pusing. Mbakyumu menjadi mestruasi. Jadi aku tidak melakukan hubungan selama dua hari ini, kami biasanya melakukannya setiap hari “, begitu kata Mas Sancaka beralasan saya.
Aku ingin menolak, tapi bagaimana lagi? Mas Sancaka telah begitu murah hati kepada saya. Saya pikir tidak ada salahnya saya untuk melakukan ini sekali untuk mencari kebaikan Mas Sancaku saya selama ini, terutama pada saat seperti ini. Malu-malu aku melakukan apa yang ia minta, saya melihat penis Mas Sancaka masih tertidur, panjang oke, saya mulai menggosok kemaluannya Mas Sancaka lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai melihat reaksinya, Penis Mas Sancaka sedikit demi sedikit mulai membengkak dan membengkak, tangan saya terasa berkedut penisnya sampai tidak bisa bergerak lagi, karena seluruh batang penisnya telah tegang oleh sangat kerasnya.
Mas Sancaka terlihat menutup matanya untuk menikmati permainan ini, aku lebih berani memain-mainkan penisnya, kuusap, aku menggosok-gosok antara jari-jari saya dan akhirnya saya mulai mengocok-ngocok penis Mas Sancaka atas dan ke bawah, aku melihat tubuh Mas Sancaka kadang-kadang menggeliat merasakan kenikamatan ini, sampai tiba-tiba Mas Sancaka tubuh tiba-tiba mengejang, penisnya panas, saya melihat kepala penisnya sekarang berubah warna menjadi sangat sangat merah dan berdenyut-denyut.
Tiba-tiba Mas Sancaka memejamkan matanya sangat erat, bibirnya seperti menggigit terus sesuatu yang sangat luar biasa, tidak lebih dalam hitungan dua detik, tiba-tiba aku melihat cairan kental menyemprot deras keluar dari kemaluannya Mas Sancaka, semen cair muncrat banyak sekali bersama dengan tubuh berkelejat-gemetar sangat sampai akhirnya habis spermanya, tubuhnya jatuh lunglai dan aku melihat Mas Sancaka wajah tersenyum puas. Perlahan aku membersihkan tubuh Mas Sancaka diolesi spermanya, aku mengusap memijat lembut tubuh Mas Sancaka, sampai akhirnya Mas Sancaka tidur di tempat tidur saya.
Pada hari kedua aku benar-benar tidak bisa menolak, ketika saya masih di kamar mandi tiba-tiba kamar mandi saya pintu diketok oleh Mas Sancaka, ketika mendapatkannya, tiba-tiba Mas Sancaka mendapatkan saya dengan buas. “Jika Anda tidak melayani saya, maka saya akan memberitahu Anda hal aborsi ini untuk Ms Mira”, ia mengancam.
Jadi, saya tidak bisa menahan keinginan ini, Sepanjang malam aku harus melayani Mas Sancaka round-by-bulat. Sejak saat itu aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk menolak keinginan Mas Sancaka untuk mencicipi kehangatan tubuh saya masih gemuk dan menggali memenuhi vaginanya, karena saya tidak pernah melahirkan. Tindakan ini tidak hanya di hotel, tetapi sudah mulai berani melakukan di rumah Mbak Mira, Hampir Setiap tengah malam menjelang pukul 3 pagi, Mas Sancaka selalu menyelinap ke kamarku dan mengetuk kamar tidurku untuk meminta jatahnya, karena aku waktu takut akan MAS diperhatikan karena Sancaka mengetuk pintu saya maka saya setiap tidur tidak pernah mengunci kamar tidurku.
Yang membuat saya lebih tertekan adalah tiba-tiba suatu hari tubuh saya merasa sesuatu terindih, ketika saya membuka mata saya apa kejutan untuk saya, karena yang disematkan saya adalah Sudrajat Mas, Mas Sancaka kakak, aku ingin berteriak, tetapi Mas Sudrajat menutup mulutku mengancam. “Dengar, Anda tidak perlu berteriak, kalau tidak saya akan melaporkan Anda ke urusan Mas Sancaka untuk Ms Mira. Saya tahu ini sejak insiden pekan lalu, lalu apa salahnya jika Anda melakukan itu untuk saya juga,” ancamnya.
Sejak saat itu saya dinilai tidak bermoral oleh yang sama Sudrajat Mas Mas Sancaka tersebut. Naik dari saat itu hampir setiap hari aku melayani dua orang. Antara jam 12:00 ke tempat at 1:30 am Saya melayani Mas Sudrajat, dan antara jam 03:00-04:00 pukup saya harus kembali bergulat dengan Mas Sancaka. Tubuhku benar-benar sebagai outlet untuk nafsu kedua saudara ipar.
Bahkan Mas Sudrajat pikir adalah yang paling korup di dunia, ia bahkan mengatakan kepada kita untuk Mas Suwono perselingkuhan yang tinggal di jakarta. Ketika suatu hari Mas Suwono menginap di rumah Mbak Mira berkaitan dengan tugas-tugas kantornya. Dia tidak tidak ragu-ragu untuk datang ke ruang dari malam saya bersama dengan Mas Sudrajat untuk kembali merasakan-kehangatan tubuh saya, bahkan sekali ketiga kalinya tiba-tiba berkumpul di kamarku dan benar-benar menguras seluruh kekuatan saya, bahwa saya tidak pernah pingsan menahan kesenangan yang datang bertubi- tanpa henti rentetan dari tiga bersaudara ipar saya memutar bergantian. Sampai akhirnya puncak dari semua kesenangan ini adalah kelelahan yang luar biasa, saya knock out alias KO!
Lebih buruk lagi tentang waktu ketika Ms Mira pada siang hari datang ke kamarku dan menemukan celana dalamnya di kamarku. Aku cukup yakin Ibu Mira tahu kalu suaminya sering pergi ke kamarku. Ibu Mira hanya diam saja. Dia hanya melemparkan suaminya pakaian kewajahku. Dan, karena itu Ibu Mira jarang berbicara kepada saya. Ketika saya mengatakan insiden itu kepada Mas Sancaka, Meskipun tuduhan dengan mengatakan, “Mila, Ms Mira tidak kuat lagi untuk melayani jiwa saya, saya perintahkan sekali aku punya pacar seorang janda muda, dia diam-diam saja,” kata Mas Sancaka.
Aku tertegun. napasku seolah berhenti di tenggorokan. Miskin Ms. Mira. Tapi yang menempatkan belas kasihan? Saya telah melayani buas nafsu kakak ipar ketiga. Aku ingin lari lari jauh dari rumah Mbak Mira, tapi di mana saya harus menetap? Saya tidak ingin menjadi pelacur, dan saya tidak punya uang pula untuk mencari nafkah jika aku melarikan diri.
Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keberanian benar-benar menghilang sama sekali, dan sampai ini aku masih harus melayani nafsu binatang ketiga orang mertua.

CERITA JANDA AKU KORBAN NAFSU SAUDARA IPARKU | janda | 4.5