Cerita Sex Terbaru Mesum Dengan Adik Ipar Yang Cantik

cersex istriku cersex 2024 cersex sd cersex akhwat cersex hamil cersex xyz

narasi seks adik ipar. Saya hidup tersanjung bersama istri dan kedua beberapa anaku, laki2 dan wanita walopun saya cuma karyawan rendahan di sebuahinstansi pemerintahan di kota B. Kita tempati rumah tipe 45, angsuran rumah BTN, yang selanjutnya di renov dengan simpel menjadi mempunyai 3 ruang tidur yang memiliki tidak besar.

Cersex TanteSesuatu hari, pada tahun 1992, kita kehadiran bunda mertua bersama adik ipar saya yang paling kecil, sebutlah saja Neng, baru lulus SLA. Atas keinginan bunda mertua, untuk saat ini turut kita sekalian mencari kerja. Ketidaksamaan usia Saya dan Neng cukup jauh, lebih kurang sepuluh tahun. Karena kita dari wilayah Jawa Barat, Neng terbuktigilku dengan panggilan Aa (yang maknanya kakak laki2).

Sementara belum mendapat tugas, Neng meng ikuti sejumlah pelatihan, Bahasa Inggris, Computer, Akutansi, dan atas izin dan perintah istipsu, Saya kebagian untuk antara jemput menggunakan motor ‘bekjul’ ku. Bekjul tujuannya motor bebek 70 cc.
Mungkin karena hidup baik alias bisa dibuktikan muka Neng cukup elok, tidak sampai seminggi, Neng mendapatkan penawaran tugas sebagai pelayan toko yang cukup kredibel denga perpecahan kerja, satu minggu tahapan pagi dan satu minggu kebagian malam, begitu silih ganti. dan jika kebagian kerja malam, saya bekerja untuk jemputnya, umumnya toko tutup jam 21.00 dan karyawan baru dapat pulang lebih kurang 21.30. Perjalanan dari toko ke rumah tidak demikian jauh, bisanya dilakukan lebih kurang 30 menitan.
Neng anaknya manja, mungkin karena bungsu, setiap di bonceng motor, apalagi kalau malam pulang dari kerja, dianya akan merengkuhku dengan kuat, mungkin saja karena udara malam yang dingin. Entahlah menyengaja dengan kata lain tidak, payudaranya yang sudah cukup besar akan melekat di punggungku. Faktor ini teratur terjadi setiap saya jemput Neng pulang dari kerja malam, tetapi yang bingung, keliatannya Neng tidak ada perasaan bersalah atau rikuh sedikitpun setiap payudara menempel di punggungku, mungkin dia anggap faktor ini sebuahkonsekuensi rasional jika boncengan naik motor. Akulah yang seringkali berkhayal yang tidak-tidak, tidak jarangkali dengan menyengaja motor kukemudikan dengan kecepatan rendah, terkadang menyengaja cari jalan yang putar agar bisa rasakan gesekan-gesekan nikmat di punggungku semakin lama.
Pada sebuahmalam, seperti umumnya Saya jemput Neng pulang dari kerja malem, sampai rumah lebih kurang jam 22.15 dan seperti umumnya istipsu yang membuka pintu. Sehabis membuka pintu istipsu akan kembali lagi ke kamar untuk meneruskan tidur. Malam itu saya tidak segera tidur, saya ke dapur, memanasi air untuk membuat kopi karena punya niat untuk menyaksikan pertandinga sepak bola di TV, jika tidak salah waktu itu kesebelasan paforitku bermain, Brazil. Saat saya keluar dapur, dengan bersama Neng keluar kamar mandi, menjadi kita sama ada di lorong depan kamar mandi, entahlah apa pemicunya, malam itu kita sama stop dan sama-sama pandang tanpa sepatah katapun keluar mulut kita masing-masing.
Mendadak ada sebuahdorongan, dengan cepat saya rangkul dan saya kecup bibirnya saat lagi beberapa menit. Sehabis itu Neng melepas diri dari rangkulanku dan secara tergesa masuk ke dalam kamarnya. Saya kembali lagi ke ruangan tengah untuk menyaksikan laga bola, tetapi hatiku kacau-balau, tidak konsen pada jadwal di TV. Waktu itu ada hati takut menghantuiku, takut Neng mengadu ke istipsu, bisa jadi perang dunia ke tiga.
Saat pikiranku kacau-balau, saya dikejuti suara semprit dari dapur yang mengisyaratkan air sudah mendidih, segera saya ke dapur untuk membuat kopi. Kembali saya keruang tengan sekalian mengusung satu cangkir kopi yang sangat nikmat, tetapi tetap pikiranku kacau-balau. kok bisa-bisanya barusan saya mengecup bibir Neng??????
Dalam kebimbangan hatiku, dikejuti lagi dengan suara lonceng yang memperlihatkan jam 23.30. Waktu itu saya menyaksikan kamar Neng lampunya masih tetap hidup, yang mengisyaratkan penghuninya belum tidur, karena saya tahu Neng teratur mematikan lampunya bila tidur. Terpikir olehku, wajib pastikan jika Neng tidak geram oleh tingkahku barusan dan mengharap istipsu tidak sampai tahu kejadian itu.
Dengan pelahan, saya membuka kamarku untuk menyaksikan istipsu, kenyataannya dianya sudah nyenyak, terfoto dari dengkurannya yang lembut makalah helaan nafar yang teratur. Dengan pelahan kututup kembali pintu kamar dan dengan pelahan juga kubuka pegangan pintu kamar Neng, kenyataannya tidak digembok, pelahan tetapi pasti pintu kubuka dan kudapati Neng duduk di atas tempat tidur sekalian merengkuh bantal menghadap tembok. Perlahan-lahan saya mendekati, mendadak Neng melihat kearahku, kusaksikan matanya merah berkaca-kaca, saya semakin bertambah cemas, Neng pasti geram dengan kelakuanku barusan. Di luar sangkaan, Neng berdiri dekatiku dan mendadak merengkuhku dengan kuat sekalian menangis lagi lirih. Tambah ragu saya dibikinnya, selanjutnya untuk pastikan apa yang terjadi sebenarnya, dengan pelahan dan berhati-hati saya capai wajahnya dan saya tengadahkan,
“Kamu geram?”, pertanyaan konyol mendadak keluar mulutku. Tanpa kata-kata, Neng menjawab dengan gelengan kepala sekalian tajam melihatku. Kita beradu pandang, dan entahlah dorongan darimanakah, dengan pelahan kudekatkan bibirku ke bibirnya, saat tidak ada usaha tolakan dari Neng, secara halus kembali kukecup bibirnya. Sehabis sejumlah lama, berasa ada reaksi Neng, ternyata dianya nikmati ciuman itu. Pada akhirnya ciuman ini jalan semakin lama dan kita sama-sama merengkuh dengan kuat, sama-sama keluarkan emosi yang kita tidak tahu bagaimana mengfotokannya. Tetapi kemesraan ini wajib selekasnya disudahi, saat sebelum kedapatan oleh isi rumah lainnya, terutama istipsu. Selekasnya saya keluar kamar, kembali keruang tengah untuk meneruskan menyaksikan sepak bola yang kenyataannya sudah kelar dengan score yang tidak saya kenali. Pada akhirnya TV kumatikan dan saya masuk kekamarku untuk tidur dengan hati yang tersanjung.
Jalinan kita tambah kuat dan tambah mesra, setiapkali ada kesempatan peristiwa malam itu teratur kita ulangi, dan pastinyanya semakin hari nilainya semakin mesra.
Sesuatu hari, saya pulang dari kerja lebih cepat dan kudapati di dalam rumah cuma ada adikku Neng dan pembantu. Pembantuku anak wanita alumnus SMP yang tidak meneruskan sekolah karena ongkos, tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahku, menjadi pagi-pagi tiba dan sore hari pulang. Tubuh pembantuku termasuk gede, kulitnya sawo masak dengan muka yang cukup manis untuk ukuran pembantu.
Kembali kepokok narasi, ternyata istipsu sedang pergi dengan ke 2 anakku, berdasar surat yang diditipkan ke Neng, sedang bertandang ketempat Tante yang ucapnya sedang melangsungkan sukuran.
Seperti umumnya, sore itu lebih kurang pk 16.00 pembantuku izin pulang, karena itu tinggallah kita berdua, saya dan Neng, sedangkan istri dan beberapa anakku masih tetap di rumah tante.
Bacaan Seks Ngentot Adik Ipar Yang Elok
Tanpa dikomando, ternyata kita sama merendam kangen, seperginya pembantu, sehabis pintu depan digembok, kita sama-sama berangkulan dengan erar dan berpagutan untuk menumpahkan hati masing-masing. Sehabis sejumlah lama kita berpagutan sekalian berdiri, dengan perlahan-lahan saya membimbing Neng sekalian masih tetap berangkulan ke kamar dan meneruskan pertarungan di atas tempat tidur.
abibir kita sama-sama berpagutan sekalian sama-sama sedot dan sama-sama mengelitik menggunakan lidah, tanganku coba meraba-raba payudaranya dari kembali kaos yang dipakai, ternyata tingkahku benar-benar mengagetkan, sssttttt…….. sssttt …. sssstttt, kedengar erangan seperti orang kepedasan di saat saya mempermainkan putingnya.
Saya tambah agresip, kuangkat kaos yang dipakainya, telihatlah payudaranya yang masih tetap tertutupi beha tipis, secara tergesa saya sibak beha-nya dan dengan rakus saya kecup dan saya mempermainkan dengan lidah putingnya.
Efeknya bagus sekali, ssstttt ….. ooohhh….. uuuhh ….ssstttt ,,, begitu rintihan panjang Neng, faktor ini muncul karena belum ada lelaki yang menyentuh, kenyataannya akulah lelaki pertama kali yang mencium bibirnya dan pembermainkan payudaranya.
Baju kita semakin acak-acakan, saya mengharap istipsu tidak pulang cepat. kita meneruskan kemesaraan, ini hari saya mencium lagi bibirnya sekalian meremas-remas payudara dan kadang-kadang permainkan putingnya. ini hari saya memesrai Neng sekalian menindih tubuhnya, perlahan-lahan tetapi pasti saya berusaha menggesekkan adik kecilku yang sudah benar-benar keras ke kemaluannya yang ternyata sudah mulai lembab.
Terdengar kembali eranga-erangan nikmat, ssssttt ……… uuuhhh ….. ooohhhh ……uuuh.
Bibir dengan cekatan mengisap payudaranya silih ganti sekalian menggesekkan adik kecilku yang sudah benar-benar keras ke kemaluannya, kita masih tetap sama gunakan pakaian. Neng gunakan bawahan dan kaos, saya masih tetap menggunakan pakain kerja.
Saya semakin bergairah, saya sibak bawahan Neng menjadi terlihat celana dalamnya yang sudah lembab selanjutnya lagi saya gesek-gesekan adik kecilku tidak berhenti-hentinya mengecup payudara dan permainkan putingnya.
Erangan-erangan panjang kembali terdengan dan mendadak Neng merengkuhu dengan kuat dan kedengar erangan panjang uuuuhhhh………….. uuuuuuuuhhhh……. uuuuuuhhhhhhh….. aduuuuuuuuhh……. ternyata Neng alami orgasme, mungkin ini ialah orgasme yang pertama yang sebelumnya sempat dirasakannya. Semakin lama cengekeraman Neng semakin melembek dan lepas seiiring secara beresnya orgasme barusan. Saya???? belum tersalurkan, tetapi rasakan ketersanjunganya yang sangat benar-benar karena sudah sukses membuat Neng yang kusayang dapat mendapat orgasme yang kenyataannya baru dirasakan waktu itu dan ialah orgasme yang pertama.
Semenjak peristiwa itu, tujuannya semenjak Neng mendapat orgasme yang pertama, kita teratur mencari kesempatan untuk mengulangnya. Tetapi kesempatannya tidak gampang, karena kita tidak ingin memikul risiko sampai ketahuan oleh istipsu.
Pada sebuahmalam, lebih kurang jam 23.00, saat saya ada dalam kamar bersama istipsu, kedengar suara pintu kamar samping terbuka, dan kedengar beberapa langkah lembut ke arah kamar mandi, saya dapat menerka dengan pasti jika itu ialah Neng yang terdapat keperluan ke kamar mandi, kuperhatikan istipsu sudah tertidur dengan pulas yang diikuti dengkuran lembut yang teratur. Dengan berhati-hati, saya membuka pintu kamar sehalus mungkin dengan unggulan tidak ada suara yang dapat mengakibatkan istipsu terjaga, lantas dengan perlahan-lahan juga pintu kututup kembali dan dengan pelahan saya ke arah lorong yang menyambungkan ke kamar mandi.
Saya berdiri di lorong sekalian memerhatikan pintu kamarku tahapan bawah, kalau-kalau ada pelintasan bayang-bayang yang mengisyaratkan istipsu bangun, sedangkan telingaku tidak lepas dengarkan apa yang terjadi di dalam kamar mandi.
Selang beberapa saat pintu kamar mandi terbuka, dan betul sangkaanku, Neng keluar kamar mandi dengan menggunakan pakaian tidur warna kuning kegemarannya. Pakaian tidur yang dipakai ialah mode terusan dengan bukaan di tahapan dada dan tahapan bawah hanya lutut.
“Ngapain A berdiri di sana” tegur Neng memecahkan keheningan, “Nungguin kamu” jawabku. Tanpa dikomando, kuraih lengannya dan muka kita sama-sama merapat, tidak sangsi kembali kita berpagutan melepaskan kangen kami. Sekian hari selanjutnya kita melepas pagutan sekalian tersengal.
“A, Neng ingin …” bisiknya lirih di telingaku. Saya mahfum apa yang diharap Neng, kembali kukecup bibirnya sekalian kuremas lembut payudaranya, ternyata Neng ini hari tidak menggunakan beha. Saya membuka satu kancing pakaian tidurnya, dan nongolah payudaranya yang putih dibarengi benjolan coklat kemerahan. Tidak sangsi kembali, bibirku beralih ke payudaranya dengan dibarengi sedotan dan gigitan-gigitan halus pada benjolan lembut yang coklat kemerahan tersebut.
” Sssstttttt …… uuuhh” kedengar desahan-desahan lembut, mengisyaratkan Neng mulai terangsang. Tanganku turun, meraba-raba pinggang, turun terus kembali, kembali dan hinggalah kegundukan di bawah pusar, kuusap lembut sekalian terkadang meremas sampai jemari tengahku menjumpai lekukan dibalik pakaian tidur dan celana dalam. ” uuuhhh …. uuuhhh ” ternyata rabaan itu tingkatkan rangsangan.
“A, ingin ….” kembali bisikan-bisikan lirih di telingaku, selanjutnya saya jongkok menjadi kemaluan Neng pas di mukaku, Kuangkat rok pakaian tidur, berkesan celana dalam warna putih yang tipis dan cukup lembab, secara bergairah saya mulai menjilat-jilati kemaluan Neng yang masih tetap dibuntel celana dalam. ” uuuhhh ….ssstttt ….. uuhhuu” terdengar kembali erangan-erangan kepuasan yang tingkatkan gairahku semakin naik-turun.
Kucoba membuka celana dalamnya, berkesanlah gumpalah daging yang banyak bulu-bulu lembut. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung kemaluan Neng, berbau ciri khas mulai tercium, tanpa menghabiskan waktu saya mulai mencium gundukan daging yang munculkan minat itu, sampai pada akhirnya saya temukan lekukan yang lembab warna kemerah-merahan.
Saya semakin semangat menjilat-jilat lekukan yang sudah benar-benar lembab tersebut. “uuhhh ….. aaahhhhh ….sssttt …. uuuhhhhh” suara erangan semakin keras dan berasa rambutku digenggam keras dengan pergerakan menekan. Faktor ini selalu membuat gairahku berapi-api dan semakin inten lidahku menjilat-jilati lekukan itu, keluar – masuk, ke kiri – kana, ke atas – bawah, begitu berulang kali sampai pada sebuahsaat berasa jambakan pada rambutku semakin keras dibarengi himpitan kaki dikepalaku.
“Uuuuuuuuhhhhhhh ….. aaaaaahhhhhhh ….. uuuuhhhhh” terdengan erangan panjang dibarengi keluarya cairan yang cukup cukup banyak membasahi mulut dan mukaku. Mukaku berasa dijepit keras sekali hingga-sampai kesulitan untuk bernafas.
“Uuuhhhhhhhhhhh …. aaahhhhhhhhhh” kembali erangan panjang kedengar dibarengi himpitan dan gerataran yang unik, mengisyaratkan orgasme sudah diraih oleh Neng dibarengi semburan cairan yang cukup cukup banyak membasahi mukaku. Saya dekap dengan kuat kakinya dibarengi himpitan dan penekanan mukaku ke kemaluan Neng, karena saya mahfum faktor seperti berikut yang diharap wanita di saat capai pucuk orgasmenya.
Sejumlah lama selanjutnya, mulai melembek himpitan pada mukaku, sampai pada akhirnya tenang kembali. Saya berdiri dan ku dekap Neng dengan mesra “Terima kasih ya A” kedengar bisikan-bisikan di telingaku.
Peristiwa-kejadian ini selalu kita ulangi jika ada kesempatan, tetapi karena niatku yang tidak mau menghancurkan adiku sendiri, sampai pada akhirnya Neng temukan jodoh dan menikah masih tetap pada kondisi perawan. Begitu beberapa pengalamanku dengan adik iparku yang elok.

cersex ustazah cersex istri binal cersex cerbung cersex gangbang cersex cuckold cersex putri77
Cerita Lainnya:   Cerita Sex DIAM-DIAM KUPERAWANI PEMBANTU ABG DIRUMAHKU
You might also like