Cerita Sex TerBaru Memikat Iming Iming Hadiah

cersex istriku cersex 2024 cersex sd cersex akhwat cersex hamil cersex xyz

Saya anak sulung dari 5 bersaudara. Umurku mencapai 16 tahun pada saat orangtuaku wajib berpindah pekerjaan dari kota K ke kota P. Akhirnya saat itu saya baru 2 bulan masuk kelas 1 SMA sayang jika wajib berpindah, apalagi sekolahku ialah sekolah swasta yang memerlukan bujet cukup banyak.

Cersex TanteAtas peraturan ortu ku, saya wajib kost. Karena itu saya diantarkan oleh ke-2 orangtuaku dan ke-4 adik-adikku tempati kost baru. Rumah kosku cukup besar, dengan mode kuno ciri khas ukir-pahatan Jepara. Berwujud letter L dengan halaman luas, ada sepasang pohon mangga. Ruangan tamu yang memanjang kebelakang yang bersekat di mana ada 4 kamar di tahapan tengahnya yang bertemu secara langsung dengan kamar makan. Semua sejumlah 10 kamar.

Saya sendiri ada di kamar terkini di tahapan letter L-nya. 4 kamar termasuk kamarku berakses secara langsung keluar lewat pintu samping dengan halaman kecil di tanami pohon mangga kecil. Dipisah oleh tembok belakang sebuah rumah.

Teman-teman kosku saat itu namanya Mbak Mamiek, Mbak Mur, Mas Prayitno, Mbak Srini, Indarto, Sularno dan pemilik Kost. Rumah tahapan depan yang pas batasi kamarku memiliki dua anak wanita, Sulasmi kelas tiga SMP dan Sutarmi SD kelas 6.
Ukuran badanku biasa saja 168, berat 60 dengan tahi lalat di dagu samping kanan dan rahang samping kiri yang kata mbak Srini luar biasa dan sekalian membuatku manis kata mbak Srini, walau sebenarnya saya lelaki tulen faktor ini nantinya saya katakan. Ukuran penisku normal, tegak lonjong keatas tanpa membengkok.

Tiap pagi sejak duduk di SD saya teratur memendam dengan teh busuk saat lagi 10 menit-tanpa dikasih gula loh (entar di krubut semut, dapat berabe he.. he..), lantas perlahan-lahan di kocok-kocok, diremas jangan sampai keluar mani (biasanya sich keluar, setelah sedap sich). Itu kata beberapa anak kost samping rumahku dulu, entahlah betul atau mungkin tidak. Kegunaaannya? Itu saya belum mengetahui.
Beberapa hari berakhir, saya sudah mulai terlatih dengan lingkunganku yang baru, saya kerap keluar dengan teman-kawanku yang baru. Terutama mas Prayit kerap minta temaniku untuk menjumpai kekasihnya, sebel habis menjadi obat nyamuk sich. Saat kami pulang kerap kami berjumpa dengan Sulasmi. Kami stop dan mas Prayit kerap memikat cewek itu, orangnya sich ciri khas cewek K, radak poin disebut elok tidak, manis tidak. Lantas apa donk, yah seperti begitu lah.

Lama-lama saya iseng turut memikatnya. Dianya pulang jam 12.45 dan saya pulang jam 13.30 dan Hanya saya yang masih tetap sekolah teman-teman kosku sudah bekerja semua, tercepat jam 17 mereka baru pulang ringkas hanya saya yang pulang awalnya.
“Duh, kembali rileks ya Mi,” demikianlah jika saya terbuktigilnya.
“Baru pulang mas?”

Saya merapat, dianya cuma kenakan celana singkat olahraganya dan berkaos tanpa lengan sedang membaca sebuah novel. Cukup, tidak hitam-hitam sangat begitu pikirku pada saat ekor mataku mencari kakinya.
Demikianlah, kerap saya memikatnya dan kelihatannya dianya sukai. Perasaan lelakiku bicara jika dianya sebenarnya ada hati kepadaku. Atas dasar keisengan, saya membuat sebuah surat di kertas surat warna pink dan wangi sama ukuran tulisan cukup besar. Benar-benar singkat, “Lasmi, I love u” selanjutnya saat malam harinya saya selipkan di atas jendela kamarnya, di luar saya dengar dianya sedang berdendang kecil menyanyikan lagu sertagdut kegemaranya.
Secara cepat kertasku tertarik masuk, hatiku terperanjat takut kalau-kalau bukan Lasmi yang hebatnya. Tidak beragam lama lampu dimatikan dan jendela terbuka, ah Lasmi melihatkan kepalanya keluar. Saat dianya melihatku dianya tersenyum lantas melambai-lambai agar saya merapat. Selanjutnya saya merapat. Saat saya merapat mendadak
“Cuupp…!”

Lasmi mengecup bibirku, saya kaget atas tindakan tersebut. Belum juga keterkejutanku lenyap Lasmi mengulang kerjakanannya. Ini hari dengan cepat saya peluk bahunya, saya lumat bibirnya. Giliran Lasmi yang kaget, dianya cuma ingin menjawab suratku dengan ciuman kilat malah saya tidak kalah cepat. Lidahku meliuk dalam mulutnya yang menganga karena kaget, terlihat sekali dianya belum lakukan kecupan.
“Mmmppphh…”

Lantas badannya melafalkanng, rona mukanya memeras hembusan panas napas kami mulai mengincar. Lasmi pejamkan matanya perlahan dianya mulai meng ikuti lidahku yang menelusuri rongga mulutnya dan dianya melenguh perlahan ketahan pada saat lidah-lidahku menaut halus lidahnya. Refleks tangan kirinya merangkul tengkukku, luar biasa halus kepalaku dan tangan kirinya bertumpu pada pinggiran daun jendela.
Dalam situasi gelap, perlahan saya turunkan telapak tangan kananku dan raih gundukan payudaran samping kirinya.

“Ah..!”
Lasmi melenguh lirih dan kaget, menepiskan perlahan tanganku.
“Sudah malam, esok yah?” Bisiknya lirih, memberikan satu ciuman dan tutup daun jendela. Jam sudah memperlihatkan jam 10 malam.
Saya kembali kekamarku, tidak sanggup menampik tekanan birahi saya lepas semua bajuku. Dengan tidur telentang jari telunjut dan bunda jariku menjepit kuat tangkai kontolku dan saya tegakkan membuat kepala kontolku dan otot-ototnya merah jadi membesar. Telapak tangan kiriku menggosoki perlahan, sedangkan cairan bening sudah keluar kepala kontol yang memeras.
Mataku terpejam, saya pentang ke-2 kakiku lebar-lebar dan memikirkan Lasmi yang sebelumnya sempat saya pegang payudaranya yang kecil halus barusan.
“Ah…!”

“Ssstt…”
Kepalaku berdenyut dan badanku berasa melayang-layang tanpa berasa kocokanku terus cepat bersamaan desah napasku yang mulai mengincar.
“Ahhhh… hhh…!”
“Croot… croott… croottt…!”
Airmaniku menyemburkan dengan dasyat, ini hari cukup cukup banyak ingat pertama kali saya berciuman dan meremas punya wanita.
Paginya seperti biasa saya bersiap akan pergi, saya biasa naik transportasi umum toh motor ada juga tetapi tidak hebat.
Kebenaran angkutan kosku pangkalan ke-2 angkutan menjadi belum cukup banyak penumpangnya dan saya dapat pilih tempat duduk. Nach, serunya cocok pangkalan ke tiga sudah mulai penuh beberapa anak sekolah apalagi lajurnya lewat tiga SMA dan 1 SMP, pikirkan dech cocok penuh-penuhnya cukup dapat senggolan susu, he… he…
Sulasmi sudah menunggu dari sisi tempat tinggalnya dibalik kerindangan pohon Mahkotadewa. Saya berangkatnya cukup siang, masalahnya sekolahku masuk jam 7.15, mahfum cukup banyak atlet Pelatnas yang bersekolah disekolahku dan umumnya Lasmi sudah pergi, pasti dianya menunggukanku toh sejak malam itu saya sah menjadi kekasihnya.
Saya melihat kekanan dan kekiri, ke-2 orang-tua yang seorang guru dan adiknya sudah pergi sejak barusan, Lasmi biasa menggunakan sepeda.
“Maaf semalam, geram?”
Senyum dan goresan giginya terus terlihat putih dipadukan rona mukanya yang coklat kehitaman.
“Tidak tuch,” sambil saya mendatanginya di kerimbunan.
Entahlah kenapa dianya bergerak terus masuk ke dalam lorong samping tempat tinggalnya dan tentunya kami terus tidak terlihat di luar.
“Habis surat kalian sudah malam sich.”
Saya capai tangannya dan perlahan saya merapatkan badanku kearahnya dan saya cium bibirnya ah.. dingin-dingin empuk. Lidah-lidah kami bertautan, matanya terpejam. Jarum jam memperlihatkan jam 6.35 menjadi masih tetap ada waktu buat bercinta!
Berlahan saya lingkarkan ke-2 tanganku kepinggangnya, dianya cuma termenung sekalian pejamkan matanya dengan ke-2 tangannya terurai kebawah. Akankah saya ditampik? Begitu pikirku pada saat perlahan saya julurkan telapak tangan kananku mengarah dadanya.
“Jangan di sini,” selanjutnya luar biasa tanganku ke arah belakang gudang.
Disana ada sebuah dipan (tempat tidur kecil) dari bambu dan kami duduk berdekatan lantas saya peluk bahunya tanpa di instruksi bibir kami beradu dan sama-sama bertautan, ini hari seperti kuda liar lepas dari kandangnya Lasmi merengkuh kuat pinggangku. Matanya terpejam rapat pada saat bibirku merayap turun kelahernya. Ini hari tangan kananku dibiarkannya mencari payudaranya yang terbungkus pakaian seragam SMPnya.
“Ehh…”
Lasmi melenguh lirih pada saat saya secara halus meremas payudaranya, kecil dan terlihat kenyal. Dan sementara bibirku terus meliuk di lebih kurang lehernya dan dengan perasaan lelaki bibirku main di telinganya sehiingga membuat bulu kuduknya bergidik. Lasmi terus rapatkan ke-2 kakinya dan sementara badannya bertumpu kuat ke badanku.
Lasmi renggangkan dadanya, memberikan jarak agar tanganku bebas bermain di payudaranya dan sementara kepalanya sedikit meliuk meng ikuti gerak mukaku dan di sekitar lehernya dan bulu kuduknya kadang-kadang meremang. Pakaian seragam Lasmi tahapan depan sudah acak-acakan walau sebenarnya ini ialah hari senin.
“Hhh….”
“Hhhh…hhh…”
Cuma desah napas kami yang didengar. Dan berlahan Lasmi terus menekuk badannya dan telentang keatas dipan bambu. Perlahan saya dekatkan bibirku ke bibirnya, Lasmi membalas penuh nafsu. Jari tanganku buka satu-satu kancing pakaiannya bersamaan secara berjalannya waktu dari menit ke menit.
Saya menindih perlahan sambil buka resletting celana seragam SMAku yang warna abu-abu. Saya jatuhkan ciuman halus dibibirnya, refleks Lasmi buka mulutnya memberikan jalan untuk lidahku menelusuri rongga mulutnya. Sementara tanganku sudah turunkan celana seragam dan celana dalamku sampai batasan bokongku, sekarang ini kontolku sudah terlepas.
Saya capai tangan Lasmi yang sedikit terentang keatas, saya bimbing mengarah kontolku.
“Uhh…”
Badannya tergetar, payudara yang tertekan tangannya menyembul kecoklat-coklatan berkilatan saat dengan tuntunanku Lasmi meremas tangkai kontolku.
Karena belum terlatih dan untuk pertamanya kali dianya menggenggam karena itu genggamannya sedikit kuat dan tidak ada reaksi bukan hanya memegang. Toh saya pun tidak sebelumnya sempat tahu karena ini baru pertamanya kali saya perlakukan musuh tipeku sampai jauh.
“Mmmpp…”
“Hhh… Hhhh…”
Kecupanku merayap turun ke payudaranya dan tanganku mulai meraba-raba gundukan di atas selangkangannya.
“Hhhmmmpp…”
Saya terasanya melayang-layang saat tangan halus yang memegang tangkai kontolku naik sedikit mengantongi kepala kontolku. Tegang dan keras sekali.
“Sayang…” Begitu bisiknya lirih di telingaku saat tanganku perlahan menyibakkan rok seragam biru punyaya naik sedikit. Lasmi bawa sedikit bokongnya menjadi dengan bebas roknya tersibak keatas. Saat saya melihat kebawah
Lasmi saat itu juga menysupkan kepalanya kedadaku, malu tetapi ingin dan sukai.
Celana dalam warna pink sembunyikan gundukan kecil diatasnya terlihat terang sekali tahapan bawahnya sudah basah kuyup. Lasmi biarkan tanganku menyelusup terbalik celana dalamnya, terasanya gundukan belum sempat banyak cukup banyak bulu, masih tetap ada satu dua dan benar-benar lembut.
“Basah” dalam benakku saat telapak tanganku merayap di permukaan tempiknya, Lasmi terus berani memberikan kesempatan dengan sedikit buka himpitan pahanya.
Perasaanah, begitu istilahnya. Jemari telunjuk dan jemari manisku perlahan menggosok samping kiri dan kanan tempiknya sementara jemari tengahku temukan sebuah biji kacang klentit kepunyaannya. Terus basah saat saya perlahan menggosoki tanganku dengan kaku, mahfum belum biasa sich.
Telapak tanganku sarat dengan cairan kental dan lembab. Saya terus menggosokikan tangannku, hangat, lembab dan licin.
Sementara Lasmi tidak melepas pegangan tangannya di kontolku, jika barusan di tahapan kepala sekarang di tahapan pangkalnya yang dengan bulu.
Saya turunkan celana dalamnya sampai kebatas lutunya dan dengan kakiku saya bebaskan. Saya menindihnya di mana awalnya tangan Lasmi yang memegang kontolku saya telentangkan, membuat sepasang payudaranya yang sebelumnya sempat tertutup sedikit kaosnya membusung.
Lasmi seolah-olah menyetujui apa yang akan saya kerjakan, bermakna benar-benar dianya menyukaiku.
Pengakuan cinta yang dengan main-main saya lontarkan kenyataannya mendapatkan sambutan yang sebegitu dasyatnya. Benar-benar dianya sekarang ini pasrah telentang di bawahku. Sementara saya, cuma gairah yang berputar di dalam otakku. Ulangan Fisika pada pukul pertama dengan pak Anton si guru killer di mana tidak ada ampun untuk yang tidak masuk pelajarannya tanpa surat info apalagi saat ulangan sudah tidak saya sedang pikirkan.
Saya bentangkan lutut Lasmi agar pinggulku sedikit bebas menindih badannya. Lasmi cuma menurut saja. Saya pegang tangkai kontolku, saya tujukan kelobang vaginanya. Perasaan lelakiku seolah-olah dengan automatis bekerja.
Saat tahapan kepala melekat di tahapan halus dan basah saya luar biasa napas untuk kurangi keteganggan.
“Sreet…”
Berasa kepala kontolku menguak suatu hal saat pinggulku saya pencet sedikit. Lasmi sedikit mengrenyitkan dahinya pertanda ada suatu hal yang aneh.
“Sreet…”
Kembali seperti merobek suatu hal.sebuah hal. Sekarang ini Lasmi menggigit bibir tahapan bawahnya, mukanya sedikit tegang sementara mukaku juga begitu, pegangan tanganku sedikit gemetaran saat saya dorong bokongku kebawah.
“Sreet… sreeettt…”
“Mpphhh…”
Erangan lirih dari mulut Lasmi katika setengah kontolku sudah menusuk masuk. Tetes darah perawan menetes, seperti tuntunan sungai Mahakam menetes ditengah-tengah dipan bambu yang kami gunakan untuk bergulat. Menetes kebawah, berguguran tetes untuk tetes keatas tanah yang berdebu.
Saya luar biasa keatas bokongku dan dengan perlahan saya pencet kembali kebawah, ini hari tanganku sudah tidak memegang ganti menyokong badanku yang mendekat di atas badan Lasmi.
“Sreettt…”
“Aaahhhh…!”
Lasmi menjepit bokongku dengan ke-2 pahanya yang sedikit terangkut meredam perih saat semua kontolku untuk pertamanya kali tembus vaginannya. Dan sekarang ini semua tangkai kontolku sudah menusuk di dalam lubang surgawi tempiknya.
Tangannya memegang kuat, pahanya menjepit kuat bokongku dan mukanya terus terpejam. Saya share ciuman halus kebibirnya lantas dianya mulai menangis. Dan merengkuh badanku dengan kuat dengan tidak melepas capitan pahanya di bokongku justri kakinya yang terangkut di tempatkan di atas betisku.
Berlahan bokongku saya mainkan turun-naik, untuk menentramkannya saya membisikkan suatu hal ketelinganya,
“Sakit…?”
“Saya tahan, saya sayang kamu…”
Suara berderit pada dipan bambu meredam badan kami saat kontolku saya maju-mundurkan, Lasmi tidak melepas dekapannya dan ke-2 kakinya masih tetap ada di atas betisku dan ini hari capitan pahanya di bokongku sedikit mengendor.
“Plak… plak… plak…”
Kelamin kemi keluarkan bunyi ciri khas saat sama-sama bersinggungan dan suara itu ialah pertamanya kali kami dengar.
20 menit berakhir dari saya sukses menyetubuhi Lasmi, saya terus mainkan kontolku mahfum masih tetap jejaka menjadi mundur-maju, mundur-maju terus tidak ada macam. Toh dengan begitu makin lama rasa perih pada Lasmi mulai lenyap, aku juga begitu.
Lasmi mulai mencari bibirku dan saya menyambutnya dengan mengulum lidahnya dan memilinnya secara halus.
Bacaan Seks Terkini 2023 Sulasmi Demikian Memikat
“Hhhmmppp…”
“Hhhhhhh…”
“Sayang…”
10 menit selanjutnya Lasmi kencangkan dekapannya dan kembali perlahan memperkuat capitannya.
“Plak… plakk… plakkk…”
Saya terus menghujaninya dengan goyangan kontolku, kadang-kadang saya berlahan untuk luar biasa napas. Cukup pegel kenyataannya, palagi rambut kontolku yang sudah mulai lebat lenyodok-nyodok vaginanya yang masih belum memiliki rambut membuat rasa perih kepadanya jadi sebuahsensasi menyenangkan, mengunggah birahi yang sedikit bertidak lebih imbas rasa perih.
“Hhggghh…”
“Aahhhhh…”
Lasmi melafalkanng, rona mukanya memeras, napasnya ketahan pada saat birahinya naik menghajar ubun-ubun dan seperti sebuahhempasan gelombang terjang apa lantas padam terkulai Lemas. Cukup banyak energi yang sudah dikeluarkan.
Saya terus memacu saat Lasmi sudah jatuh telentang, ke-2 kakinya terkulai mengkangkang. Saya sanggah tubuhku dengan ke-2 tanganku ini hari bokongku bebas turun naik. Lesatan kontolku dalam vaginanya seperti terpedo yang dikeluarkan dari sebuah kapal selam. Seperti ada suatu hal yang akan keluar saya mempercepat pergerakan bokongku turun-naik. Serta…
“Ahhhhhh…”
“Crott.. croot.. crooot…”
Bersama dengan saya semprot air maniku mendadak,
“Gubraaak…”
Dipan yang kami gunakan roboh karena beban goyangan yang saya kerjakan.
“Ah!”
“Aduhh…”
Kami jatuh bergulir, Lasmi masih tetap saya dekap menjadi dianya menindih badanku. Kontolku lepas dari tempiknya, spermaku muncrat ke mana saja. Efeknya, kontolku yang masih tetap “ereksi” terkena bokongnya Lasmi.
“Dipan sialan,” begitu umpatku.
“Sudah keropos.”
Lantas kami berdiri, Lasmi melihatku saat saya meringis meredam nyeri di kontolku yang terkena bokongnya.
“Sakit?”
“He-eh”
Sekalian berdiri di mana saya masih tetap telanjang bundar, Lasmi ulurkan tangannya, menggenggam kontolku yang sudah terkulai sambil memberbagi pijitan-pijitan halus.
Saya tumpangkan ke-2 tanganku keatas bahunya.
“Ini hari kami absen ya?”
Saya cuma tersenyum, saya diamkan badanku bugil didepannya. Lasmi sekalian bersihkan dengan tangan kirinya tubuhku yang sedikit berdebu melihatku mesra, duh bening mata itu menyerang rekat ke kalbuku.
“Walau sebenarnya saya jam pertama ada ulangan fisika.”
“O ya?”
“Agar saja,” sekalian saya belai rambutnya yang terurai.
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
“Lebih enak saat ini?”
“He-eh”
Lasmi mengocak berlahan-lahan dan kontolku seperti diurut tangan halus, berlahan kontolku mulai tegak kembali. Saya belai payudaranya yang tertutup kaos dan seragamnya sudah tersibak tidak karuan. Saya cium kembali bibirnya sementara Lasmi terus dan terus mengurut-urut kontolku.
“Mmmpphhh…”
“Di dalam kamar yok?” Lasmi raih seragamku dan menggamit tanganku masuk lewat pintu belakang di mana dianya menggenggam anak kunci.
Tiap dianya pulang lebih dulu teratur lewat pintu belakang dan adiknya pulang bersama orangtuanya.
Lasmi langsung melepaskan seragam putih birunya yang sudah acak-acakan, sebercak darah perawan tetap masih sedikit menetes di selangkangannya, Lasmi langsung merebahkan diri keatas tempat tidur. Dan saya perlahan menyesuaikan diri keatas badannya, bokongku ada ditengahnya selangkangannya.
“Bleesss…”
Kontolku langsung menyelusup ke vaginannya. Saya ciumi mukanya dan melumat bibirnya. Langsung Lasmi merangkul tengkukku dan saya meremas payudaranya. Sepasang anak manusia bertelanjang bundar sama-sama memagut, memadu cinta, membakar api birahi.
Pikiranku lepas terbang, sudah tidak ada batasan benar-benar antara kami walau sebenarnya baru tadi malam saya bicara cinta, itu juga cuma kesiengan semata. Ah, sehabis ini semua demikian kejam dan jahatkah saya? En tahlah, itu masalah belakang sekarang ini kontolku tertancap di dalam vaginannya.
“Ahh-hh…”
Lasmi menggelinjang saat saya mulai kembali tindakan kontolku turun naik. Perih dan pedih ganti kepuasan, seperti sebuah gada dengan kepala jadi membesar membuat kesan nikmat waktu bersinggungan.
Ini hari saya tidak perlu khawatir tempat tidurnya akan roboh, tempat tidur berderit-derit saat saya menggoyahkan pinggulku. Seperti barusan Lasmi merengkuhku dengan kuat dan sepasang kakinya mengait ini hari tidak di atas betisku tetapi lebih naik keatas bokongku.
Desah napasnya terus mengincar di dekat telingaku dan ini hari tidak membutuhkan waktu yang lama Lasmi sudah mulai melafalkanng dan mesikipun dianya coba meredam tetapi tekanan biologisnya semakin kuat.
“Aahhh…”
Tanpa sadar Lasmi melenguh dengan kerasnya saat sampai dipucuk birahinya dan dalam perhitungan detik juga saya meng ikuti.
“Aakkhhh….”
“Croottt… crooottt… crooottt…” saya semburkan airmaniku di dalam rahimnya, entahlah apa yang akan terjadi sudah tidak saya sedang pikirkan.
Saya diamkan kontolku masih tetap menancap di vaginanya dan “pluppp…” lepas dan terkulai lemas.
Jam 10 saya kembali kekamar kosku ada di belakang tempat tinggalnya sehabis awalnya yang ke-3 kalinya saya menyetubuhinya. Uh, pegal semua tubuhku. Terutama kontolku langsung berusaha keras. Saya segera mandi untuk beri kesegaran tubuh, kosku masih tetap sepi karena semua masih tetap kerja sampai jam 17 terkecuali mbak Srini seorang guru SD paling jam 1 sudah pulang, bapak kosku pergi umumnya ke pasar untuk mancari selingan bermain catur, mahfum pensiunan. Dan pada akhirnya saya tertidur sampa sore hari.
Ringkas sejak peristiwa itu di antara saya dan Lasmi sudah tidak ada batasan apapun itu, ke-2 orang-tua dan adiknya teratur pergi jam 6.30 menjadi memberikan kebebasan untuk bercinta dengannya.
“Hai pah,” begitu Lasmi menyebutku Pah. Lucu terdengarannya tetapi asyik tetapi satu faktor sampai sekarang ini saya tidak menyukainya. Ah, sayang, saya bisa dibuktikan jahat sekali.
Walau sebenarnya dianya menyukaiku dengan ikhlas.
“Hai,” sapaku juga saat lewat kamarnya, dianya cuma kenakan kaos oblong menjadi beha warna kuning yang dianya gunakan berkesan.
Dan dianya cuma kenakan celana dalam warna pink dengan sedikit tersipu dianya raih rok seragam biru yang terbaring di tempat tidur dan tutup tahapan depannya.
Baru saja saya dengar suara motor orang tuanya pergi ke sekolah. Lantas dianya seperti biasa memberikan code lewat pintu belakang, sesaat saya melihat dan tidak ada orang. Teman-teman kosku masih tetap pada tidur terkecuali mbak Srini seornag guru SD teman kosku sudah pergi.
Aku segera mengamankan pintu dan merengkuhnya sekalian melumat bibirnya,
“20 menit,” pintanya tegas.
“Oke”
20 menit buatku sudah cukup, mahfum dianya masuk jam 6.55 dan saya jam 7.15. Tanpa perlu instruksi kami segera naik keatas tempat tidur sementara Lasmi berkesan pasrah dengan dada membusung dibalik kaos oblongnya dan celana dalam warna pink.
Tanganku raih kaos yang diekanakannya dan hebatnya keatas bersama dengan behanya, aku juga begitu buka pakaian seragamku sampai saya bugil. So, kontolku sudah gairah langsung ereksi.
Ups…!
Dingin empuk pada saat Lasmi meremas kontolku saat saya akan menindih sedikit badannya sekalian meremas payudaranya.
“Hmmmppp…”
Payudaranya tergetar saat saya merabanya secara halus, mengeras saat saya meremasnya, menggeliat saat putingnya saya pilin dengan jariku dan,
“Paaahh…”
mendesah saat saya susupkan mukaku antara sepasang gunung kembarnya dam memberbagi gigitan mesra yang tinggalkan pertanda merah kebiruan di kulitnya yang kecoklat-coklatan.
Saya turunkan kecupanku keatas perutnya, berputar di atas pusarnya,
“Aahhh…”
Lasmi mendesah geli, refleks genggamannya lepas dari kontolku dan mesra menyeka kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kananya tersibak keatas.
Cewek umur 14 tahun tentunya di kelaminya belum sempat banyak rambut lebat, beragam tipis dan baru memulai tumbuh terlihat saat saya merayap turun dari perutnya kebawah pangkal selangkanagnnya. Saya geser posisiku dengan luar biasa keatas pinggulku, dengan posisi itu Lasmi mulai membulatkan tekad menyeka kontolku sekalian melihat lekat-lekat kontolku.
“Besar” pikirnya, itu saya tahu selanjutnya dari buku sehari-hari yang saya mengambil saat dianya kekamar mandi. Saya belum eksper dalam sesi ini, karena itu langsung saya julurkan lidahku menjilat-jilati secara langsung klentit dan semua dan mengisap menggunakan mulutku.
“Hhmmppphh…”
“Akkhhh…!”
Tidak disangka Lasmi kaget dengan yang saya kerjakan, refleks dianya mengatupkan pahanya menjadi kepalaku terjepit. Refleks genggamannya di kontolku mengencang, tetapi dianya tidak pejamkan matanya.
Dipandangnya kontolku yang sudah keluarkan cairan bening pertanda birahi dari ujungnya kepala kontolku.
“Masukkan pah, sudah siang,” pintanya sekalian geser badanku darinya.
Saya merebahkan badanku keatasnya, Lasmi buka ke-2 kakinya, memberikan kebebasan arahkan kontolku dan,
“Blesss…”
Kontolku melejit masuk ke lubang vaginanya yang sudah basah langsung sampai kedasarnya, hangat, halus dan kenyal. Kontolku seperti diremas oleh kehalusan dan kehangatan, dipilin oleh cairan birahi dan kami pagi itu bersatu dengan badan bugil.
Lasmi merengkuhku dan kembali seperti awalnya menyangkutkan ke-2 kakinya keatas pinggulku dan saya memicu, melejitkan berkali-kali kontolku di dalam tempiknya. Sama-sama menderu napas kami berkejar-kejaran, kadang-kadang Lasmi tersipu malu saat dianya buka kelopak matanya dan saya benar-benar dekat diatasnya melihat tajam kearahnya, tersipu dengan rona muka memeras dan sembunyikannya kebawah bahuku. Saya terus menayunkan pinggulku turun naik, beberapa suara yang pada akhirnya terlatih dalam telinga kami menemani derit tempat tidur yang didengar perlahan karena goyangan kami.
“Paahhh…”
“Sayanggg…”
Hentakan birahi merayap keujung kontolku, semaksimal mungkin saya berusaha meredamnya. Sementara dengan tegang merengkuhku kuat dan mengapitkan ke-2 pahanya kuat-kuat di pinggulku. Dinginnya udara pagi dengan jendela berkaca nako mengakibatkan kami terus birahi.
“Ahhh…”
Lasmi melenguh, melafalkanng, tergetar dan capitan vaginanya meremas-remas kontolku saat saya hentakkan-hentakkan sampai dasar vaginanya di mana rambut kelaminku menggesek-gesek klentitnya waktu beradu.
Dalam perhitungan detik, aku juga melafalkanng, sekalian menggigit belakang telinganya dan tangan meremas payudaranya saya hujamkan kuat-kuat kontolku.
“Ak-akkk-akkhhh…!”
“Croot… serrr… croot, croot… crooot…”
Kami termenung, Lasmi sudah terkulai lemas secara bersimbah peluh dan saya diamkan kontolku terjepit vaginanya yang berdenyut halus. Saya merengkuhnya dan desah napas kami yang sebelumnya menderu-deru berlahan-lahan mulai teratur.
“Pah, dah siang loh, saya tidak ingin absen kembali,” Lasmi mengingatiku sekalian tersenyum.
Lantas saya kecup bibirnya dan terlihat di leher belakang telinganya mencicipi gigitanku. Saat kami kenakan pakaian terlihat nyaris sekujur badannya sarat dengan “cupang”-an dan gigitan mesraku.
Payudara kirinya mencicipi jari kananku barusan saat saya akan orgasme. Lasmi tersenyum saat saya melihat badannya,

Cerita Lainnya:   Cerita Sex Gadis Kos Nikmat Banget

“Hasil karyamu pah,” sambil menggunakan lagi behanya.
“Kreasi abstrak mah,” lantas saya hampiri dianya dan saya belai kelaminya yang masih tetap meluluhkan spermaku.
“Tidak dicuci dulu mah”
“Tidak ah, biarin saya masih tetap rasakan punyamu pah.”

Jam memperlihatkan jam 7.50 saat Lasmi mengayuh sepedanya dan saya berjalan ke jalan besar untuk menunggu transportasi umum. Biasa, buat mencari senggolan apalagi jam dekati waktu masuk.
Sebelumnya pernah sebuahketika saya sebagai wakil sekolahku dalam gelaran lomba mengfoto, cukup saya memiliki talenta mengfoto. Saat sebelum jam 1 saya sudah kembali, saya longokkan kepalaku terlihat Lasmi sedang kerjakan PR-nya. Melihatku dianya bergerak keluar lewat pintu belakang.
Darah mudaku saat itu juga berkobar-kobar, saya hampiri dan saya lumat bibirnya.
“Nyaris jam 1 pah,” begitu dianya mengingati, bermakna 30 menit kembali orangtuanya pulang.
Langsung saya meminta dianya nungging dengan ke-2 tangan di atas dipan bambu (sudah ditukar yang baru) lantas saya sibakkan rok yang dipakainya, celana dalamnya saya plorotkan dan lidahku secara cepat menjilat-jilati tempiknya.
Ups, he… he… sedikit pesing, sebodo sangat. Lantas saya tujukan kontolku ke vaginanya dan,
“Sleeebbb… bleeesss…”
“Ahhhh…”

Lasmi kaget dan sedikit meringis meredam perih tetapi cuma sesaat dan napasnya sudah mulai tidak teratur. Berlalu lima menit dengan mencekram pinggiran dipan bambu sekalian “mekangkang” Lasmi menggelinjang sambil melenguh kuat.
“Aahhhh…”

Saya pegang bokongnya dengan ke-2 tanganku, saya sikatkan ke depan dan kebelakang bokongku menjadi kontolku bebas melesak keluar dan di dalam. Lantas saya remas dengan mencekram bokongnya pada saat kontolku memuntahkan spermaku.
“Ahhhh… hh… ahhh…”
“Serrr… serrr… serrr…”

Cairan kental putih muncrat di dalam vaginanya sambil munculkan bunyi “ceplak-ceplak-ceplak”, belum senang saya lanjutkan pacuanku hingga-sampai Lasmi nyaris jatuh terkulai jika saja tidak saya sanggah pinggulnya dengan ke-2 tanganku.
Semangat mudaku menggebu-gebu, saya terus memicu dan memicu. Kontolku yang sebelumnya berasa nyeri karena sudah melemparkan airmaniku berlahan mendapat lagi kemampuannya. Saya habis-habisan agar kontolku sehabis keluarkan airmani tidak terkulai.
Saya paksakan semangatku agar cepat raih birahi kembali.
Lasmi cuma menggigit bibirnya, lemas sekali. Beberapa sendinya terasanya ingin lepas, napasnya terengah-engah. Rasa pening menghajar kepalanya tetapi tempiknya kenyataannya tidakmau sepakat, berlahan cairan birahi membasahi gesekan kontol dan tempiknya.
Lasmi tidak sanggup meredam hentakan birahi yang berlahan mulai menjalar naik ke ubun-ubunnya. Merayap ke semua ujung syarafnya, jantungnya berdegap dengan kuat, matanya terbeliak dengan semua otot diwajahnya menyembul mengakibatkan rona mukanya memeras.
“Akkk… hhhhhh…!”
“Crooot… crooot… crooot…”
“Ah…”

Cerita Lainnya:   Cerita Sex Berhubungan Dengan Wanita Yang Cantik

Bersama kami dihempas oleh pucuk birahi, bersama kami dihajar oleh kepuasan surgawi dan bersama kami jatuh terjatuh keatas dipan bambu dan seolah-olah dunia berasa melayang-layang. Lasmi jatuh tanpa daya keatas dipan tersisa lelehan sperma di selangkangannya di bawah benjolan bokongnya, kenyataannya dianya tidak sadarkan diri!
Di sekolah saya termasuk pelajar yang biasa saja, dan Lasmi termasuk kelompok pelajar barisan “dodol” atau “bego” dan kelompok cewek “non nominasi” pantes saja saya radak “GR” langsung bermain tancep pedang saja. Luar biasanya saya tidak senang cuma sekali, sedikitnya 2x, inikah kegunaaan imbas rendaman air teh basi? Mungkin kali ya ha… ha…

Sudah 3 bulan saya tiduri Sulasmi, saat lagi itu juga dianya tidak hamil. Hebat, membuat saya suka. Benar-benar tidak ada waktu lowong saya dengan dianya tidak untuk bermain seks. Terang-terangan dan jelas terus, saya perlakukan Lasmi sebagai objek dan bukan sebagai subyek, duh bisa dibuktikan saya ketahui saya benar-benar jahat. Kerap Lasmi lebih kurang jam 2 siang menyelusup masuk ke dalam kamarku, minta porsi ketika ke-2 orangtuanya istirahat siang.

cersex ustazah cersex istri binal cersex cerbung cersex gangbang cersex cuckold cersex putri77
You might also like